Jika ada pemilihan “keluarga hijau”, pasangan Richard Strauss,53, dan Rachelle,37, layak mendapatkannya. Mereka tak mau mencemari lingkungan dengan sampah. Untuk memenuhi satu tong sampah saja, keluarga ini membutuhkan waktu sekitar setahun. Lantas, kemana sajakah sampah-sampah tersebut?
Tasa plastik memang terlihat sepele. Namun, bagi Rachelle, barang tersebut tetap saja menjadi salah satu sumber pencemaran. Karena itu, dia “mengharamkannya”. Untuk belanja, istri Richard Strauss tersebut membawa tas sendiri yang ramah lingkungan dari rumah.Satu tas bisa dipakai sampai beberapa kali. Jika sudah benar-benar tak layak pakai, barulah Rachelle menyisihkannya. Bukan dibuang begitu saja, tapi masuk dalam kotak daur ulang.
Ya, keluarga asal Langhope, Gloucestershire, itu memang selalu memilih-milih sampah dalam tiga kategori. Pertama yang bisa didaur ulang, kedua yang bisa diurai di tanah untuk dijadikan kompos, dan ketiga yang bisa dipakai kembali secara langsung.
Kelompok sampah tersebut ditata rapi di sebuah ruangan khusus. Masing-masing ditaruh di kardus atau kotak plastik bekas yang telah dilengkapi tulisan jenis sampahnya.
Dalam ruangan penyimpanan sampah itu, setumpuk koran bekas ditempatkan secara terpisah dari sayur-sayuran sisa.begitu pula sampah lain yang dikumpulkan sesuai kelompoknya.
Prinsip keluarga ini adalah memanfaatkan barang tersebut secara maksimal. Bahkan, kursi kayu toilet yang rusak pun tak boleh dibiarkan begitu saja. Masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar perapian ruangan keluarga.
Berkat kedisiplinan dan ketelatenan itu, tak heran jika keluarga Strauss hanya membuang sampah kurang dari 57 gram setiap hari. Jumlah itu setara dengan tiga sendok makan gula pasir.
Untuk acara yang besar sekalipun, keluarga tersebut tak menghasilkan sampah berlebihan. Pada perayaan Natal misalnya, keluarga Strauss hanya membuang 6,5 oz (184 gram) sampah. Jumlah itu mereka anggap masih terlalu banyak. Karena itu, mereka menargetkanuntuk tak membuang apa pu tahun depan.“Ini hanyalah aksi yang enteng dilakukan. Anda tak perlu melakukan semuanya semalaman. “tutur Rachell sebagaimana dilansir Daily Mail.
Kecintaan terhadap lingkungan tersebut juga diterapkan putri semata wayang mereka, Verona,8. “Putrinya senang crip dan itu sempat menjadi masalah untuk sampah kami. Tapi, sekarang dia telah membeli atau kantong besar kedap udara untuk menyimpan sisanya selama seminggu, “papar Rachelle.
Kebiasaan tersebut bermula pada 18 bulan setelah keluarga Strauss membaca efek tas plastik terhada kehidupan laut. Sejak saat itulah mereka memutuskan tak menggunakan tas plastik lagi. Juga, mengecek setiap kontainer sampah di toko bisa saja ada yang bisa didaur ulang. Sejak saat itu pula mereka menghindari makanan cepat saji dan menyortir setiap sampah dengan hati-hati. Sikap tersebut diadopsi dari prinsip “good life” atau hidup yang layak.
“Butuh waktu 18 bulan untuk sampai di level ini. Jika setiap orang mengambil langkah maju dengan mendaur ulangnya, mereka bisa membuat perbedaan di seluruh dunia, “harap Rachelle.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar